{"id":8643,"date":"2016-09-08T04:54:23","date_gmt":"2016-09-08T04:54:23","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1812"},"modified":"2016-09-08T04:54:23","modified_gmt":"2016-09-08T04:54:23","slug":"sanubari-teduh-12-mata-rantai-sebab-akibat-bagian-1-318","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-12-mata-rantai-sebab-akibat-bagian-1-318\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; 12 Mata Rantai Sebab Akibat &#8211; Bagian 1 (318)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - 12 Mata Rantai Sebab Akibat - Bagian 1 (318)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/oRZVIYkvbLk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3>Sanubari Teduh &#8211; 12 Mata Rantai Sebab Akibat &#8211; Bagian 1 dari 2 (318)<\/h3>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kebenaran tidak berubah selamanya. Buddha pernah membabarkan tentang Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Ini adalah prinsip kebenaran yang sudah ada\u00a0 sejak kita lahir. Karena itu jangan meremehkannya. Jika setiap orang dapat hidup sesuai dengan prinsip kebenaran, maka kesempatan kita berbuat keliru akan lebih kecil. Karena itu kita harus bersungguh hati untuk mengingat ajaran prinsip kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di dalam syair pertobatan dikatakan, \u201cMembangkitkan pandangan salah terhadap Empat Kebenaran Mulia sehingga mengalami kelahiran kembali mengikuti 12 Mata Rantai Sebab Akibat\u201d Dari mana kita berasal ? saya sudah pernah mengulasnya. Terlahir ke dunia ini, kita tidak boleh tidak memahami Empat kebenaran Mulia. Kita hendaknya tahu kebenaran tentang penderitaan.\u00a0 Mengapa di dunia terdapat banyak penderitaan ? Tentu saja karena ada banyak sebabnya. Berbagai penyebab itu mendatangkan penderitaan. Saat kita merasa menderita dan penuh kerisauan,\u00a0 itu pasti ada sebabnya. Berbagai sebab yang terakumulasi memicu timbulnya penderitaan. \u00a0Kita hendaknya mengetahuinya, tetapi kita tak pernah menyadari sebab penderitaan.\u00a0 Kita tidak tahu apa sebab dari penderitaan. Kita harus memutuskan sebab penderitaan. Bukankah kita sudah sering membahas tentang ini ? \u00a0 Namun, manusia awam hanya sekedar mendengar dan mengetahuinya saja tanpa benar-benar memutus sebab penderitaan. Karena itulah kita sangat menderita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penderitaan dan sebab penderitaan berkaitan dengan hukum sebab akibat. Semua makhluk mengalami kelahiran kembali di enam alam, tidak memahami dan tidak memutus penderitaan dan sebab penderitaan sehingga noda batin dan penderitaan semakin bertambah. \u00a0Setelah mempelajari kebenaran dan memahami sebab penderitaan, kita tetap tidak berusaha untuk melenyapkannya, karena itu kita enggan melatih diri. \u00a0Tanpa melatih diri, kita tak dapat merealisasi kebenaran. Setelah menyadari penderitaan, kita harus mencari tahu sebabnya. Setelah mengetahui sebab penderitaan, kita harus bersungguh hati melenyapkannya. Setelah pernah melakukan kesalahan sekali, kita jangan mengulanginya untuk kedua kalinya. Kita hendaknya tahu bahwa hari ini kita menuai buah seperti ini karena benih yang ditanam di masa lalu. Setelah menyadari hal ini, kita harus segera memperbaiki diri. Namun, sebagian orang engan memperbaiki diri meski sudah mengetahui kesalahan. Karena enggan memperbaiki diri, kita sulit melenyapkan penderitaan. Untuk membaiki diri, kita harus melatih batin dan membina karakter. Kita harus segera melatih diri. Untuk dapat melenyapkan penderitaan. Jika enggan melatih diri sesuai prinsip kebenaran, maka kita selamanya tak dapat melenyapkan penderitaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>12 Mata Rantai Sebab Akibat :<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0 Ketidaktahuan<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0 Dorongan Karma<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0 Kesadaran<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0 Nama dan Rupa<\/p>\n<p>5.\u00a0\u00a0\u00a0 Enam Indra<\/p>\n<p>6.\u00a0\u00a0\u00a0 Kontak<\/p>\n<p>7.\u00a0\u00a0\u00a0 Sensasi<\/p>\n<p>8.\u00a0\u00a0\u00a0 Keinginan<\/p>\n<p>9.\u00a0\u00a0\u00a0 Kemelekatan<\/p>\n<p>10. Eksistensi<\/p>\n<p>11. Kelahiran<\/p>\n<p>12. Usia tua dan Kematian<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Yang pertama dari 12 Mata Rantai Sebab Akibat adalah kegelapan batin atau ketidaktahuan, yaitu tertutupnya hakikat sejati oleh noda batin masa lalu sehingga kehilangan kecemerlangan, maka di sebut kegelapan batin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yang kedua dari 12 Mata Rantai Sebab Akibat adalah dorongan karma, yaitu segala karma baik dan karma buruk masa lalu yang tercipta lewat tubuh dan ucapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yang ketiga dari 12 Mata Rantai Sebab Akibat adalah kesadaran. Akibat belenggu noda batin dan karma masa lalu, kesadaran ini masuk ke rahim ibu, lalu dalam sekejap, dengan keinginan sebagai benih, terbentuklah embrio.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Singkat kata, kita harus memahami kelahiran dan kematian. Saat melihat suatu kondisi menjelang kematian, kita hendaknya tidak terbuai ilusi. Kita makhluk awam cenderung mengikuti semua itu sehingga saat sadar dan kembali membuka mata, kita sudah terlahir kembali entah dimana. Intinya, semua tak lepas dari 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Harap Semuanya senantiasa bersungguh hati. Ketidaktahuan memicu timbulnya dorongan karma; dorongan karma memicu timbulnya kesadaran. Kita harus senantiasa mengingatnya. Harap semuanya senatiasa bersungguh hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh &#8211; 12 Mata Rantai Sebab Akibat &#8211; Bagian 1 dari 2 (318) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/oRZVIYkvbLk\">https:\/\/youtu.be\/oRZVIYkvbLk<\/a><\/p>\n<p>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :<br \/>\nSetiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; 12 Mata Rantai Sebab Akibat &#8211; Bagian 1 dari 2 (318) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kebenaran tidak berubah selamanya. Buddha pernah membabarkan tentang Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Ini adalah prinsip kebenaran yang sudah ada\u00a0 sejak kita lahir. Karena itu jangan meremehkannya. Jika setiap orang dapat hidup sesuai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1380,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8643","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; 12 Mata Rantai Sebab Akibat &#8211; Bagian 1 dari 2 (318) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kebenaran tidak berubah selamanya. Buddha pernah membabarkan tentang Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Ini adalah prinsip kebenaran yang sudah ada\u00a0 sejak kita lahir. Karena itu jangan meremehkannya. Jika setiap orang dapat hidup sesuai&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8643","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8643"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8643\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}