{"id":8625,"date":"2016-06-28T15:32:09","date_gmt":"2016-06-28T15:32:09","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1322"},"modified":"2016-06-28T15:32:09","modified_gmt":"2016-06-28T15:32:09","slug":"sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-09-253","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-09-253\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 09 (253)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh   Enam Belas Pandangan  - Bagian 09  (253)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/20K0pF4WpYk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 09\/13 (253)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Video Youtube : \u00a0 <strong><a href=\"https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk\">https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Saudara se-Dharma sekalian, hidup ditengah masyarakat, pikiran kita terus bergejolak. Penderitaan dalam hidup sungguh banyak. Jadi, Buddha senantiasa mengatakan bahwa kebanyakan manusia memiliki kekeliruan. <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Semua makhluk diliputi kekeliruan, membedakan ini dan itu, untung dan rugi, sehingga membangkitkan niat tidak baik dan menciptakan berbagai karma buruk. (<strong>Sutra Makna Tanpa Batas Bab 2 Pembabaran Dharma<\/strong>)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Bukankah ini ada dalam keseharian kita ? kita sering berada dalam kekeliruan. Akibat adanya lima agregat, yakni rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, saat indra bersentuhan dengan objek luar, kita terdorong untuk berpikiran keliru. Jadi, tidak bisa mengendalikan diri, makhluk awam membangkitkan kekeliruan. Artinya, kita tidak bisa mengendalikan diri. Kita harus terus melangkah di jalan yang kita pilih. Setelah menemukan jalan yang benar, kita jangan sampai menyimpang. Kita harus melangkah maju. Inilah yang benar. Namum sebagai makhluk awam, meski telah menemukan jalan dan tahu bahwa jalan ini menuju akhir yang benar, tetapi di tengah jalan ini, masih bisa timbul pikiran yang keliru. Timbul pertentangan dalam batin kita. Pikiran kita tidak lagi lurus. Jadi, dalam pikiran kita timbul berbagai hal yang membuat kita tak dapat terus melangkah maju.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Enam Belas Pandangan :<\/strong><br \/>\n1. Pandangan tentang aku<br \/>\n2. Pandangan tentang makhluk hidup<br \/>\n3. Pandangan tentang jiwa atau usia<br \/>\n4. Pandangan tentang yang bernyawa<br \/>\n5. Pandangan tentang yang dilahirkan<br \/>\n6. Pandangan tentang yang dikembangkan<br \/>\n7. Pandangan tentang ras manusia<br \/>\n8. Pandangan tentang manusia<br \/>\n9. Pandangan tentang pelaku<br \/>\n10. Pandangan tentang yang membuat melakukan<br \/>\n11. Pandangan tentang pemulai<br \/>\n12. Pandangan tentang yang membuat memulai<br \/>\n13. Pandangan tentang penerima<br \/>\n14. Pandangan tentang yang membuat menerima<br \/>\n15. Pandangan tentang yang tahu<br \/>\n16. Pandangan tentang yang melihat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Pandangan\u00a0kesembilan adalah\u00a0Pandangan tentang pelaku. Melakukan berarti berbuat baik atau buruk. Kebanyakan makhluk awam memiliki kekeliruan, makhluk awam lebih memilih jalan yang menyimpang. Dalam hubungan antar manusia, saat batin seseorang tidak seimbang, dia dapat menjalin dendam dan kebencian dengan orang lain, lalu melakukan suatu tindakan yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. \u00a0Orang ini adalah pelaku yang harus menerima konsekuensi. Kita sudah tahu prinsip sederhana ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu adakalanya orang lain tidak bermasalah dengan kita, tetapi malah kita \u00a0melakukan hal yang merugikan mereka. Mengapa ini bisa terjadi ? \u00ecni karena ada yang membuat melakukan. Ini adalah pandangan yang kesepuluh yaitu pandangan tentang yang membuat melakukan. Kadang kita benci atau merasa dendam terhadap seseorang. tetapi kita sendiri tak melakukan apa-apa. Kita menyuruh orang lain \u201cSaya tidak suka terhadap orang ini, tetapi saya tidak akan langsung mengatakannnya. \u201cSaya akan mengatakannya pada \u00a0orang lain, agar orang lain ikut benci terhadapnya\u201d ini disebut memanfaatkan orang lain untuk berbuat jahat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Saat didalam batin timbul pikiran keliru yang membuat prilaku menyimpang sehingga menciptakan karma buruk, saat itulah kita menjadi pelaku. Saat kita menghasut orang lain untuk membenci orang yang kita benci sehingga dia mencelakai orang tersebut, saat itu kita disebut sebagai yang membuat melakukan. Baik pelaku maupun yang membuat melakukan, keduanya tak akan luput dari hukum sebab akibat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Sesungguhnya, begitupula dari sisi hukum karma. untuk keluar dari penderitaan di dunia. kita harus melampaui keduniawian. Segala bentuk kekeliruan segala perhitungan untung rugi, \u00a0semua harus terlebih dahulu kita lenyapkan. Dengan begitu kita tak akan perhitungan dengan orang lain atau membedakan mana orang yang saya suka dan yang saya tidak suka. Jika pikiran seperti itu tidak timbul, kita tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Kita juga tidak akan menyuruh orang lain, meski kita sendiri tidak melakukannya. Semua keburukan tadi menciptakan karma buruk. Semua itu adalah kekeliruan. Semua itu tidaklah benar. Jadi, Buddha datang ke dunia untuk terus membimbing kita \u00a0agar membangkitkan hati Bodhisattva. Hati Bodhisattva sangat dekat dengan kebenaran. Jadi, Bodhisattva mengamati kebenaran ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Bodhisattva \u2013 Mahasattva mengamati demikian, timbul rasa iba dalam hati-Nya, mengembangkan cinta kasih dan welas asih untuk memberi pertolongan.<br \/>\n(\u00a0<strong>Sutra Makna Tanpa Batas Bab 2 \u2013 Pembabaran Dharma\u00a0<\/strong>)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Kita semua hendaknya menjadi Bodhisattva yang menerapkan kebenaran didalam setiap prilaku kita. Jika kita memiliki hati Bodhisattva. Berkenaan dengan rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran dan kesadaran, kita harus berpegang pada kebenaran. Rupa seperti apapun yang kita lihat atau orang seperti apapun yang kita temui, jika didalam hati kita terdapat kebenaran, indra kita tidak akan terpengaruh oleh kondisi yang tidak baik diluar. Perasaan kita dengan sendirinya akan tenang. Inilah hati Bodhisattva kita. Jika menyatu dengan kebenaran, kita tidak akan terjerat lima agregat, juga tidak akan terjerumus dalam enam belas pandangan. Singkat kata, dalam mempelajari ajaran Buddha, banyak aspek halus yang harus diperhatikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kehidupan sehari-hari selama kita memiliki kebenaran yang ada di dalam hati kita dan memiliki hati yang menyatu dengan segala sesuatu yang ada di dalam keseharian, maka dengan sendirinya kita dapat merasakan saat ada orang yang menderita dan merasa ingin untuk berusaha membantunya. Inilah Bodhisattva yang mengamati penderitaan semua makhluk. Kita akan dapat bertekad untuk menolong mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Bodhisattva harus memiliki kebenaran. Sebagai manusia kita tak luput dari kesalahan. Namun, jika kita dapat menyatu dengan kebenaran dan berjalan sesuai kebenaran, maka kehidupan kita juga bisa berubah. Selain diri kita yang berubah, kita juga bisa menginspirasi orang lain. Jadi, dalam berbuat baik apakah kita melakukannya sendiri ataukah meminta orang lain melakukannya, keduanya sama-sama mengandung pahala. kita sendiri bisa melakukannya lalu kita mengajak orang lain untuk melakukannya. Ini juga termasuk menjadi membuat yang melakukan. Jika kita meninggalkan kebenaran dan berlaku tidak baik terhadap orang lain, maka saat pikiran jahat timbul, kita dapat mencelakai orang lain atau meminta orang mencelakai orang-orang itu. Baik meminta orang lain melakukan maupun melakukan sendiri, semua tetap memiliki konsekuensi. Semua ini termasuk karma buruk. intinya, semua tergantung pada pikiran. Jadi harap semua bersungguh hati<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Demikianlah diintisarikan dari\u00a0<strong>Sanubari Teduh \u2013 Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 09\/13 (253) \u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk\">https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 09\/13 (253) \u00a0Video Youtube : \u00a0 https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk \u00a0 Saudara se-Dharma sekalian, hidup ditengah masyarakat, pikiran kita terus bergejolak. Penderitaan dalam hidup sungguh banyak. Jadi, Buddha senantiasa mengatakan bahwa kebanyakan manusia memiliki kekeliruan. Semua makhluk diliputi kekeliruan, membedakan ini dan itu, untung dan rugi, sehingga membangkitkan niat tidak baik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8625","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 09\/13 (253) \u00a0Video Youtube : \u00a0 https:\/\/youtu.be\/20K0pF4WpYk \u00a0 Saudara se-Dharma sekalian, hidup ditengah masyarakat, pikiran kita terus bergejolak. Penderitaan dalam hidup sungguh banyak. Jadi, Buddha senantiasa mengatakan bahwa kebanyakan manusia memiliki kekeliruan. Semua makhluk diliputi kekeliruan, membedakan ini dan itu, untung dan rugi, sehingga membangkitkan niat tidak baik&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8625"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8625\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}