{"id":8624,"date":"2016-06-28T15:30:03","date_gmt":"2016-06-28T15:30:03","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1319"},"modified":"2016-06-28T15:30:03","modified_gmt":"2016-06-28T15:30:03","slug":"sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-08-252","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-08-252\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 08 (252)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh   Enam Belas Pandangan  - Bagian 08 (252)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ig4Y9XwDMMs?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><strong>Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 08\/13 (252)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Video Youtube : \u00a0 <strong>\u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs\">https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajatan Buddha, tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Huruf manusia dalam aksara Tionghoa terlihat sederhana, hanya terdiri dari dua goresan. Namun, kedua goresan ini harus menempel. Mengenai\u00a0manusia, didalam ajaran Buddha ada istilah \u201cCinta kasih. Jika manusia memiliki cinta kasih, maka disebut manusia yang memiliki cinta kasih. Selain cinta kasih, jika ditambah dengan kesadaran maka akan lebih baik lagi. Mendengar istilah \u201c<strong>Manusia dengan cinta kasih berkesadaran<\/strong>\u201d kita merasakan kehangatan. Manusia sesungguhnya begitu sederhana. Ditambah dengan adanya cinta kasih, maka manusia akan dipenuhi kelembutan dan perasaan penuh kehangatan. Namun, kondisi hangat yang semula sederhana ini bisa menjadi sangat kompleks, paling berbahaya dan penuh kontradiksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>SEPULUH ALAM DHARMA :<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Empat alam suci :<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li>Buddha<\/li>\n<li>Bodhisattva<\/li>\n<li>Sravaka<\/li>\n<li>Pratyebuddha<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Enam alam samsara :\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li>Alam Dewa<\/li>\n<li>Alam Manusia<\/li>\n<li>Asura<\/li>\n<li>Neraka<\/li>\n<li>Setan Kelaparan<\/li>\n<li>Binatang<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Jadi, dunia saha ini juga disebut sebagai tempat meleburnya lima alam, kedengarannya sangat kompleks. Semua makhluk tinggal bersama disini. tetapi semua makhluk ini adalah makhluk berperasaan dan bernyawa. Mereka disebut makhluk hidup. Makhluk yang bernyawa dan berperasaan termasuk dalam kategori makhluk hidup. Jika perasaan ini terjerat oleh kesesatan, maka akan menjadi kompleks. Jika makhluk ini hidup sadar, maka semuanya menjadi sederhana. Perbedaannya hanya terletak pada sadar dan tersesat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Bertekad dan berikrar untuk menjalankan ajaran Buddha, membabarkan Dharma dengan ucapan, mempraktekkan ajaran dengan tubuh, melenyapkan noda batin setiap orang. kembali pada hakekat yang sederhana inilah yang disebut \u00a0manusia dengan cinta kasih berkesadaran<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Enam Belas Pandangan :<\/strong><br \/>\n1. Pandangan tentang aku<br \/>\n2. Pandangan tentang makhluk hidup<br \/>\n3. Pandangan tentang jiwa atau usia<br \/>\n4. Pandangan tentang yang bernyawa<br \/>\n5. Pandangan tentang yang dilahirkan<br \/>\n6. Pandangan tentang yang dikembangkan<br \/>\n7. Pandangan tentang ras manusia<br \/>\n8. Pandangan tentang manusia<br \/>\n9. Pandangan tentang pelaku<br \/>\n10. Pandangan tentang yang membuat melakukan<br \/>\n11. Pandangan tentang pemulai<br \/>\n12. Pandangan tentang yang membuat memulai<br \/>\n13. Pandangan tentang penerima<br \/>\n14. Pandangan tentang yang membuat menerima<br \/>\n15. Pandangan tentang yang tahu<br \/>\n16. Pandangan tentang yang melihat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Didalam sutra Intan juga dibahas tentang pandangan tentang manusia, makhluk hidup dan rentang usia. Berapa banyaknya pandangan yang di bahas dalam sutra, semuanya tak lepas dari manusia. Manusia tak luput dari lingkungan sekitar. dalam kehidupan sehari-hari segala yang kita lihat dan rasakan atau yang kita lakukan setelah merasakan sesuatu, semuanya tak lepas dari manusia. Ini berkaitan dengan noda batin dan ketidaksadaran batin manusia, Manusia tersesat, tersesat dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Begitu tersesat, kita terus meninggalkan diri sendiri dan menjadi sombong, bahkan kita salah mengira bahwa kita adalah orang yang mampu melatih diri, sedangkan orang lain tidak. \u201cSaya memiliki jalinan jodoh istimewa, bisa mendengar Dharma. \u201cYang lebih luar biasa lagi, saya bisa membabarkan Dharma, juga bisa melatih diri. Kesombongan dan keangkuhan pun timbul. Ini juga termasuk kekeliruan para praktisi pembina diri. Dengan kesombongan seperti ini, kita mengira \u00a0kita piawai dalam melatih diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Berlatih diri berarti kita harus berlatih untuk mengecilkan ego, berusaha melayani masyarakat dan masuk ke dalam hati orang untuk membimbing batin semua orang ke arah yang benar. Jika kita tidak dapat mengecilkan ego, bagaimana bisa masuk ke dalam hati orang ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Kita harus menjalani hidup dengan sederhana. Alangkah baiknya jika bisa kembali pada hakekat kebuddhaan yang pada dasarnya dimiliki semua orang. \u00a0\u00a0Dengan demikian, kita menjadi manusia dengan cinta kasih berkesadaran. Dengan demikian dunia kita akan penuh dengan kehangatan. Jika antar manusia ataupun antar manusia dan hewan dapat berinteraksi dengan harmonis, bukankah kehidupan ini menjadi kehidupan yang terbaik ? Kita harus menjaga pikiran dengan baik, jika pikiran dapat dijaga dengan baik, maka setiap tempat akan menjadi Tanah Suci. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Demikianlah diintisarikan dari\u00a0<strong>Sanubari Teduh \u2013 Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 08\/13 (252) \u00a0\u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs\">https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 08\/13 (252) \u00a0Video Youtube : \u00a0 \u00a0https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajatan Buddha, tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Huruf manusia dalam aksara Tionghoa terlihat sederhana, hanya terdiri dari dua goresan. Namun, kedua goresan ini harus menempel. Mengenai\u00a0manusia, didalam ajaran Buddha ada istilah \u201cCinta kasih. Jika manusia memiliki cinta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8624","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"\u00a0Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 08\/13 (252) \u00a0Video Youtube : \u00a0 \u00a0https:\/\/youtu.be\/ig4Y9XwDMMs Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajatan Buddha, tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Huruf manusia dalam aksara Tionghoa terlihat sederhana, hanya terdiri dari dua goresan. Namun, kedua goresan ini harus menempel. Mengenai\u00a0manusia, didalam ajaran Buddha ada istilah \u201cCinta kasih. Jika manusia memiliki cinta&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8624"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8624\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}