{"id":191,"date":"2015-11-11T13:31:29","date_gmt":"2015-11-11T06:31:29","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=191"},"modified":"2015-11-11T13:31:29","modified_gmt":"2015-11-11T06:31:29","slug":"tujuh-kondisi-pikiran-bagian-ketiga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/tujuh-kondisi-pikiran-bagian-ketiga\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09  Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga) (038)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga) - 038\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/kDDP6QJjnBo?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara se-Dharma sekalian. Sudahkah kita menjaga pikiran dengam baik ? \u00a0Untuk waktu yang sangat panjang kita terus terombang-ambing dalam enam alam kehidupan dan tak berdaya untuk menemukan cara terbebas darinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita terus menjadi makhluk awam karena pikiran kita dipenuhi noda batin. Noda batin terus menerus bertambah sehingga mengakibatkan cahaya kebijaksanaan hakiki kita yang cemerlang tidak memancar keluar. Karena itulah, kita harus mempelajari ajaran Buddha. Kini kita telah memasuki gerbang ajaran Buddha. Dan setelah mempelajari ajaran Buddha, kita telah mengetahui urutan cara untuk melenyapkan noda batin. Buddha telah mengajarkan cara dan urutan prosesnya kepada kita. Maka, urutan dari Tujuh Kondisi Pikiran ini harus kita pahami<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tujuh kondisi pikiran untuk mengikis Tiga Rintangan:<\/p>\n<p>Rasa malu<\/p>\n<p>Rasa takut<\/p>\n<p>Berpaling dari keburukan<\/p>\n<p>Membangkitkan Bodhicitta<\/p>\n<p>Memandang setara semua makhluk<\/p>\n<p>Rasa syukur kepada Buddha<\/p>\n<p>Pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pertama, kita harus memiliki rasa malu, barulah dapat membangkitkan rasa takut. Jika tidak memiliki rasa malu, kita tidak akan mampu mengecilkan ego kita, tidak akan mampu memahami permasalahan antar manusia di sekeliling kita, dan kita tidak akan dapat memahami akibat dari perbuatan buruk, bahwa perbuatan buruk yang dilakukan akan mendatangkan buah dan akibat. Dahulu kita tidak mengetahui semua ini, setelah mengetahuinya sekarang, kita harus membangkitkan rasa takut, takut karena kelahiran kembali di enam alam merupakan suatu penderitaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang pertama adalah rasa malu. Aku merenungkan bahwa aku dan Buddha Sakyamuni pernah sama-sama menjadi makhluk awam, namun kini, sejak Yang Dijunjung mencapai kebuddhaan, banyak kalpa yang bagaikan butiran pasir telah berlalu. Sedangkan aku masih terbuai enam objek indra, berputar-putar dalam lingkaran kelahiran kembali dan tak pernah terbebas darinya. Sesungguhnya, didunia, ini adalah hal yang memalukan dan menyedihkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menjalankan sila berarti mencegah keburukan; dengan teladan nyata, mendisplinkan diri sendiri dan orang lain. Mematuhi aturan berarti menaati tata tertib. Dengan mematuhi sila dan aturan, jalan kita tidak akan menyimpang.<\/p>\n<p>Karena kita semua merupakan makhluk awam, saat sedang bersemangat, kita akan menjalankan ajaran dengan rajin,\u00a0 namun saat noda batin muncul, tekad melatih diri akan tenggelam lagi. Pada saat tekad melatih diri tenggelam, maka begitu noda batin muncul dan kita menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Ini karena kita \u00a0semua adalah makhluk awam. Ketika semangat muncul, kita bertekad. Ini karena kita semua adalah makhluk awam. Ketika semangat muncul, kita bertekad. Merasakan sukacita dan berikrar. Kita dapat berbuat bajik dengan penuh keiklasan dan kegembiraan, namun saat kegelapan batin muncul, tekad melatih diri kembali tenggelam dan kita di butakan oleh kegelapan batin ini serta kembali menjadi makhluk awam. Inilah alasan kita tidak bisa membuat kemajuan, terus berjalan di tempat. Waktu terus berlalu, namun pikiran awam kita tetap saja terbelenggu dalam tataran makhluk awam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara sekalian jangan meremehkan diri sendiri. Dalam tindakan sekecil apapun setiap hari, tak boleh kita biarkan ada niat yang menyimpang.\u00a0 Jika kita memiliki pikiran yang salah, kita harus segera mengingatkan diri untuk membuang pikiran yang tidak patut itu. Saudara sekalian, saat mendengar Dharma, kita juga harus meresapinya. Bila tidak diresapi,sebanyak apapun kita mendengar, tetap saja tidak memahamimnya. Kalimat dalam syair ini sangat lugas, namun kita harus menyerapnya ke dalam pikiran dengan sungguh-sungguh. Jika kita tidak melakukan instrospeksi diri, dan tidak merenungkan ajaran secara mendalam, maka setelah membaca kita hanya akan berkata, \u201cSaya Sudah Tahu\u201d \u00a0namun tidak pernah benar-benar\u00a0 mengerti dan menyadari artinya. Jadi, harap\u00a0 semua selalu bersungguh-sungguh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari \u00a0\u00a0Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga) \u2013 038 <a href=\"https:\/\/youtu.be\/kDDP6QJjnBo\">https:\/\/youtu.be\/kDDP6QJjnBo<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :<br \/>\nSetiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga) &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian. Sudahkah kita menjaga pikiran dengam baik ? \u00a0Untuk waktu yang sangat panjang kita terus terombang-ambing dalam enam alam kehidupan dan tak berdaya untuk menemukan cara terbebas darinya. &nbsp; Kita terus menjadi makhluk awam karena pikiran kita dipenuhi noda batin. Noda batin terus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":618,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-191","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e09\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga) &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian. Sudahkah kita menjaga pikiran dengam baik ? \u00a0Untuk waktu yang sangat panjang kita terus terombang-ambing dalam enam alam kehidupan dan tak berdaya untuk menemukan cara terbebas darinya. &nbsp; Kita terus menjadi makhluk awam karena pikiran kita dipenuhi noda batin. Noda batin terus&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}