{"id":185,"date":"2015-11-09T13:28:07","date_gmt":"2015-11-09T06:28:07","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=185"},"modified":"2015-11-09T13:28:07","modified_gmt":"2015-11-09T06:28:07","slug":"tujuh-kondisi-pikiran-bagian-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/tujuh-kondisi-pikiran-bagian-pertama\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09  Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama) (036)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama) - 036\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/4R-ZxFFG4hU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara se-Dharma sekalian waktu berlalu dengan cepat. Menit dan detik terus bergulir dan terlewati. Kehidupan kita adalah kendaraan terbaik untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dengan adanya kehidupan, kitqa memiliki kesempatan mengenal Dharma. Namun kehidupan tidaklah kekal. Usia terus berkurang seiring berjalannya waktu. Karena itu, kita harus menghargai waktu dan menggunakan kehidupan kita ini untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan serta membangkitkan pikiran yang jernih. Kita mengetahui bahwa noda batin menutupi hakikat sejati diri kita yang murni. Lalu, bagaimana cara untuk mengikisnya ? Buddha menggunakan beragam metode terampil untuk membimbing kita mengikis noda batin. Hal ini perlu kita pelajari sepenuh hati agar kita dapat memahami cara untuk mengikis noda batin. Ada 7 langkah mengikis noda batin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tujuh kondisi pikiran untuk mengikis Tiga Rintangan:<\/p>\n<p>Pertama, Rasa malu<\/p>\n<p>Kedua, rasa takut<\/p>\n<p>Ketiga, berpaling dari keburukan<\/p>\n<p>Keempat, membangkitkan Bodhicitta<\/p>\n<p>Kelima, memandang setara semua makhluk<\/p>\n<p>Keenam, rasa syukur kepada Buddha<\/p>\n<p>Ketujuh, pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Langkah pertama adalah harus memiliki rasa malu. \u00a0Dengan memiliki rasa malu, akan menimbulkan rasa takut pada buah karma.<\/p>\n<p>Kita perlu memahami Tiga Rintangan, yaitu noda batin, karma dan buah karma. Akibat adanya kegelapan batin, maka kita pun menciptakan karma. Dengan menciptakan karma, maka kita harus menerima buah karma. Ada karma yang baik dan buruk. Karma baik mendatangkan berkah, karma buruk mengundang bencana. Karena itulah kita perlu memahami bahwa sejaka msa tanpa awal, karma telah menyebabkan kita berputar dalam lingkaran kelahiran kembali tanpa henti dari kehidupan ke kehidupan. Pada tiap kelahiran, kita membawa karma lampau dan bertemu dengan kondisi pendukungnya. Saat benih karma lampau yang terbawa bertemu dengan kondisi pendukungnya, maka pada saat itu kita dapat kembali menciptakan karma. Karma yang baru tercipta itu pun menjadi benih yang akan terakumulasi untuk tumbuh berbuah di masa mendatang. Demikianlah seterusnya tanpa pernah berakhir. Kini kita telah menyadarinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Buddha membuka banyak sekali metode terampil untuk menyadarkan kita, maka kita harus terlebih dahulu membangkitkan rasa malu dari lubuk hati yang terdalam. Setiap orang harus memiliki rasa malu bahwa kita memiliki banyak kekurangan, dibanding orang lain; menyadari diri sendiri diliputi kebodohan batin sementara orang lain dapat melihat jelas. Orang lain dapat melihat jelas jalan kebenaran dan teguh menapakinya. Sebaliknya kita justru tidak sungguh-sungguh berusaha di jalan kebenaran yang lapang ini, sehingga tidak mengalami kemajuan. Dengan kondisi demikian, kitapun selayaknya merasa malu, karena diri sendiri masih kurang dari orang lain, dan karena diri kita terus melakukan kesalahan. Maka kita harus senantiasa memiliki rasa malu, barulah akan timbul rasa takut. Kita perlu memahami, mengapa kita perlu merasa takut ? karena kita meyakini hukum sebab akibat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saat timbul rasa takut terhadap penderitaan di tiga alam rendah, pikiran untuk berpaling akan timbul. Setelah melihat penderitaan, mereka yang tidak sadar akan membenci dunia ini, sedangkan mereka yang sadar akan membangkitkan Bodhicitta dan masuk dalam jalan Bodhisattva.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk mengikis Tiga Rintangan, praktisi Buddhis harus memiliki Tujuh Kondisi pikiran yang dikembangkan secara berurutan, dimulai dari rasa malu yang membangkitkan rasa takut sehingga timbullah tekad untuk berpaling dari samsara, sungguh-sungguh membangkitkan Bodhicitta, memandang setara terhadap semua makhluk, hingga menyadari kosongnya hakikat kejahatan. Singkat kata, semua ini mengandung Dharma. Keberadaan sekelompok orang dalam organisasi Bodhisattva ini menjadi kekuatan yang dapat mengubah hati seseorang dan kemudian menyelamatkan banyak orang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara sekalian, hanya ketika memiliki rasa malu, seseorang dapat memiliki rasa takut, berpaling dari semua kesalahan, dan perlahan-lahan memulai langkah di jalan Bodhisattva. Jadi, harap semua orang bersungguh-sungguh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari \u00a0\u00a0Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama) \u2013 036 <a href=\"https:\/\/youtu.be\/4R-ZxFFG4hU\">https:\/\/youtu.be\/4R-ZxFFG4hU<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :<br \/>\nSetiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1><\/h1>\n<p>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama) &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian waktu berlalu dengan cepat. Menit dan detik terus bergulir dan terlewati. Kehidupan kita adalah kendaraan terbaik untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dengan adanya kehidupan, kitqa memiliki kesempatan mengenal Dharma. Namun kehidupan tidaklah kekal. Usia terus berkurang seiring berjalannya waktu. Karena itu, kita harus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-185","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; \u9664\u6ec5\u4e09\u969c\u7684\u4e03\u7a2e\u5fc3\uff08\u4e00\uff09 Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama) &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian waktu berlalu dengan cepat. Menit dan detik terus bergulir dan terlewati. Kehidupan kita adalah kendaraan terbaik untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dengan adanya kehidupan, kitqa memiliki kesempatan mengenal Dharma. Namun kehidupan tidaklah kekal. Usia terus berkurang seiring berjalannya waktu. Karena itu, kita harus&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}