{"id":1817,"date":"2016-09-08T04:57:01","date_gmt":"2016-09-08T04:57:01","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1817"},"modified":"2016-09-08T04:57:01","modified_gmt":"2016-09-08T04:57:01","slug":"sanubari-teduh-empat-landasan-noda-batin-320","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-empat-landasan-noda-batin-320\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; Empat Landasan Noda Batin (320)"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - Empat Landasan Noda Batin  (320)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/MBnsX39ObxU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h1>Sanubari Teduh &#8211; Empat Landasan Noda Batin (320)<\/h1>\n<h1><\/h1>\n<p>Mengalami kelahiran kembali mengikuti 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Akibat kegelapan batin tanpa awal, terhimpunlah landasan noda batin sebanyak pasir Sungai Gangga.<\/p>\n<p>Saudara se-Dharma sekalian, sejak masa tanpa awal, kita semua memiliki hakikat kesadaran yang murni dan sama dengan Buddha. Hanya saja, karena sebersit kegelapan batin, kemelekatan berdiam di batin kita. Kita selalu berada dalam kemelekatan. Dengan adanya kemelekatan,\u00a0 kita menciptakan karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Inilah yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kebijaksanaan hakiki kita pun tertutupi. Kegelapan batin membawa kekacauan. Karena itu, kita menciptakan karma lewat tubuh, ucapan dan pikiran. Terhadap Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat, kita tidak memahami dengan jelas. Empat Kebenaran Mulia\u00a0 dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat adalah kunci dari misteri kelahiran dan kematian. Isi dari Empat Kebenaran Mulia\u00a0 harus kita pahami.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kehidupan penuh dengan penderitaan. Penuh ketidakberdayaan dalam hidup ini.\u00a0 Apa yang menyebabkan penderitaan ini ? sebab apa yang terhimpun sehingga banyak orang terbelenggu dalam noda batin dan mengakibatkan banyak hal yang berujung pada berbagai bencana alam dan ulah manusia. Ataupun berbagai masalah kehidupan pribadi ?\u00a0 Semua ini menganggu kita dan sangat\u00a0 mendesak. Apa sebab dari semua ini ? kita harus merenungkannya dengan cermat.\u00a0 Jika tidak memahami sumber penderitaan, kita tidak akan tahu cara melenyapkan penderitaan. \u00a0Berhubung kita tidak tahu semua ini, maka Buddha datang ke dunia\u00a0 untuk membuka sebuah jalan bagi kita, agar kita tahu bahwa pendeitaan datang karena sebab. Untuk melenyapkan sebab penderitaan ini, kita harus berlatih sesuai sang jalan. Inilah Empat Kebenaran Mulia. Namun, kita tidak bersungguh hati. Akibat ketidak sungguhan ini, kitapun terus terjebak\u00a0 dalam 12 Mata Rantai Sebab Akibat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mata rantai ini di mulai dari kegelapan batin. Sebersit kegelapan batin memicu dorongan karma, lalu menimbulkan kesadaran, nama dan rupa,\u00a0 dan seterusnya hingga membentuk 12 mata rantai.\u00a0 Kesadaran kita terus berlanjut sehingga kita terus berada di dalam 12 mata rantai ini. Kesadaran gudang dari kehidupan lampau adalah satu-satunya yang kita bawa. Kesadaran\u00a0 kedelapan ini berisi benih perbuatan kita di masa lampau yang telah terakumulasi dan terbawa dalam kehidupan sekarang mengikuti berbagai jalinan jodoh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Empat Landasan Noda Batin :<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0 Landasan pandangan<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0 Landasan keinginan pada nafsu<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0 Landasan keinginan pada rupa<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0 Landasan keinginan pada keberadaan<\/p>\n<p>Saya sering berkata bahwa kita sering sering risau terhadap empat fase alamiah. Kita mengenal fase pembentukan, kelangsungan, kerusakan dan kehancuran. Di alam semesta ini, tubuh kita juga mengalami lahir, tua sakit dan mati. Inilah empat fase dalam tubuh kita. Ada pula empat fase dalam pikiran, yaitu timbul, berlangsung, berubah dan lenyap. Semua perubahan ini terjadi dengan sangat halus.<\/p>\n<p>Empat Fase Fenomena<\/p>\n<p>Materi: Terbentuk, berlangsung, rusak, hancur<\/p>\n<p>Kehidupan : Lahir, tua, sakit, mati<\/p>\n<p>Pikiran: Timbul, berlangsung, berubah, lenyap<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara sekalian, pikiran memiliki fase timbul, berlangsung, berubah dan lenyap. Kita hendaknya kembali pada hakikat sejati. Kita harus menyadari bahwa kita telah memiliki noda dan kegelapan batin. Jika kita tahu cara untuk meneguhkan tekad dan memantapkan hati kita untuk kembali pada kesadaran hakiki yang murni, maka alangkah baiknya. Namun manusia cenderung mengikuti arus. Arus noda batin adalah arus yang keruh. Manusia cenderung mengikuti kekeruhan ini. Itulah sebabnya kita menderita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki keyakinan. Buddha datang ke dunia dan melihat berbagai penderitaan. Karena itu, beliau mencari cara untuk menemukan sebab penderitaan. Beliau telah menemukan bahwa berbagai akumulasi noda batin membawa penderitaan. Berhubung noda batin ini adalah hasil akumulasi,\u00a0 maka ia pasti dapat dilenyapkan dan Berhubung noda batin ini adalah hasil akumulasi pasti dapat di kikis. Untuk itu dibutuhkan cara, yaitu berlatih sesuai sang jalan. Karena itu, Buddha menunjukkan jalan di dunia ini. Beliau adalah penemu dan pembabar sang jalan, juga merupakan penempuh sang jalan. Kita harus meyakini Dharma yang dibabarkan oleh Buddha. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh &#8211; Empat Landasan Noda Batin (320) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/MBnsX39ObxU\">https:\/\/youtu.be\/MBnsX39ObxU<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :<br \/>\nSetiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Sanubari Teduh &#8211; Empat Landasan Noda Batin (320) Mengalami kelahiran kembali mengikuti 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Akibat kegelapan batin tanpa awal, terhimpunlah landasan noda batin sebanyak pasir Sungai Gangga. Saudara se-Dharma sekalian, sejak masa tanpa awal, kita semua memiliki hakikat kesadaran yang murni dan sama dengan Buddha. Hanya saja, karena sebersit kegelapan batin, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1380,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1817","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"&nbsp; Sanubari Teduh &#8211; Empat Landasan Noda Batin (320) Mengalami kelahiran kembali mengikuti 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Akibat kegelapan batin tanpa awal, terhimpunlah landasan noda batin sebanyak pasir Sungai Gangga. Saudara se-Dharma sekalian, sejak masa tanpa awal, kita semua memiliki hakikat kesadaran yang murni dan sama dengan Buddha. Hanya saja, karena sebersit kegelapan batin,&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1817","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1817"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1817\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1817"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1817"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1817"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}