{"id":1525,"date":"2016-07-21T11:33:35","date_gmt":"2016-07-21T11:33:35","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1525"},"modified":"2016-07-21T11:33:35","modified_gmt":"2016-07-21T11:33:35","slug":"sanubari-teduh-delapan-angin-duniawi-316","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-delapan-angin-duniawi-316\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; Delapan Angin Duniawi (316)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - Delapan Angin Duniawi (316)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/0qBNQEM6L4A?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh &#8211; Delapan Angin Duniawi (316)<\/h3>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya percaya bahwa kita memiliki hakekat yang sama dengan Buddha. Jika anda tidak yakin akan hal ini, anda tak akan bisa melatih diri. Jadi, kita semua harus tahu bahwa hakekat kebuddhaan dimiliki semua orang. Oleh karena itu, hati kita harus senantiasa memiliki kelapangan. Kita sering mengatakan kalimat lapangkan hati hingga seluas jagat raya. Hati Buddha melingkupi seluruh alam semesta. Hati yang lapang dapat merangkul seluruh dunia. Jadi, dalam melatih diri, kita harus melapangkan hati kita. Kelapangan ini dapat melingkupi seluruh alam. Apakah kita bisa mewujudkannya? Bisa. Kita harus bersemangat di dalam kebajikan. Segala kebajikan, jika terus jalankan dengan bersemangat, dengan sendirinya segala hal akan dapat kita lihat dan pahami dengan jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika kita dapat melihat segala hal dengan lebih terbuka, maka kita akan mampu bersabar, yaitu bersabar atas segala godaan kejahatan. Jadi sepatah kata \u201cKelapangan\u201d saja begitu bermanfaat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi didalam teks dikatakan, \u201cBatin diliputi kejahatan, menimbulkan noda batin intoleransi, kemalasan dan kelambanan menimbulkan noda batin ketidaktekunan\u201d \u00a0Ini dengan jelas memberitahu kita bahwa jika ada kejahatan yang menutupi batin, noda batin intoleransi akan muncul dan menyebabkan hati kita tak bersabar. Ini karena kita diliputi kejahatan. Noda batin ini banyak sekali. Niat jahat pun terus muncul. Ini disebabkan ketidaksabaran. Jika kita dapat berlapang dada dalam setiap hal, maka saat bertemu apapun, baik manusia, manusia dan hal lainnya, kita akan bisa bersabar, kesabaran adalah tanda kelapangan hati. Dengan begitu, apalagi yang kita risaukan ? Tidak ada lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Berikutnya adalah kemalasan dan kelambanan. Kelambanan berarti lambat dalam segala hal. Ini diakibatkan oleh kemalasan. Segalanya dilakukan dengan lambat. Kemalasan akan membawa kemunduran. Ketidaksabaran juga dapat menyebabkan ketidaktekunan. Manusia seperti ini tidak berpikir untuk segera memperbaiki jika ada kesalahan. Meski tahu, mereka akan berkata, \u201cPelan-pelan saja.\u201d \u201cIni Bukan apa-apa, hanya sedikit.\u201d \u201cIni hanya sedikit, maka tak perlu cepat-cepat\u201d Karena itu sering dikatakan, \u201cKesalahan besar mudah diperbaiki, tetapi kesalan kecil sulit dihentikan. \u201c Beginilah makhluk awam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kita sering berkata. \u201cJangan meremehkan kebajikan kecil, lalu tidak melakukannya\u201d\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u201cJangan pula meremehkan kejahatan kecil, lalu melakukannya.\u201d Jika kita menyucikan batin kita, jika\u00a0 kita ingin meningkatkan semangat, maka kebajikan sekecil apapun tidak semestinya kita abaikan. Semuanya harus segera kita lakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Keraguan dan kegelisahan menimbulkan noda batin lemahnya kesadaran, terbuai oleh kondisi luar menimbulkan noda batin ketidaktahuan, mengikuti Delapan Angin Duniawi menimbulkan noda batin diskriminasi. Saat kita berlatih meditasi, berarti kita sedang berlatih untuk memiliki batin yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur. Kondisi batin seperti ini sama dengan Samadhi. Kita tetap teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga. Inilah meditasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Apa yang dimaksud Delapan Angin Duniawi ?\u00a0 Kehidupan di dunia tak lepas dari 8 hal ini. Delapan Angin Duniawi disebut juga delapan aspek terdiri atas untung, rugi, dicela, dihormati, dipuji, dihina, menderita dan bahagia. Delapan aspek ini adalah delapan hal yang disukai dan dibenci manusia, juga dapat mengacaukan batin manusia, sehingga disebut sebagai \u201cDelapan Angin\u201d Ini Disebut delapan jenis angina duniawi yang menggoyahkan batin kita. Salah satunya adalah untung. Keuntungan bisa membuat manusia tersesat. Yang kita khawatirkan saat ini\u00a0 adalah orang yang memiliki kuasa. Jika orang yang berkuasa melakukan penyimpangan, maka setiap langkahnya akan salah dan akan membawa derita bagi orang banyak. Ini sungguh mengkhawatirkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jangan biarkan delapan hal ini mengganggu batin kita. Jika batin kita diliputi oleh delapan hal ini, \u00a0 maka noda batin intoleransi akan timbul. Karena kurangnya rasa empati, kita dapat melakukan hal yang membawa penyesalan. Adapula kemalasan\u00a0 dan ketidaksabaran. Semua noda batin ini sangat kasar. Ini akan terlihat jelas oleh orang lain. Keraguan dan kecurigaan juga membawa pemikiran salah. Adapula noda batin lemahnya kesadaran atau ketidaktahuan. Jika kita terus seperti ini, maka akan mudah goyah oleh Delapan Angin dan terjebak di dalam \u00a0cinta dan benci. Ini sungguh membawa penderitaan. Jadi kita semua harus selalu yakin terhadap hakikat kebuddhaan kita. Hati kita semua harus memiliki kelapangan. Kita harus bersemangat dalam kebajikan dan bersabar atas godaan keburukan. Jangan mudah tergoda oleh orang lain. Jika terbuai oleh orang lain untuk semata-mata mengejar keuntungan, maka kita akan membawa penyesalan untuk ribuan kehidupan. Penderitaan ini bahkan tidak akan habis meski kita sudah terlahir di neraka. Sekembalinya ke alam manusia, kita masih akan tetap mengalami penderitaan. Segala benih yang kita tanam saat ini akan menjadi buah di masa depan. Kita harus waspada akan hal ini. Jadi harap semua selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh &#8211; Delapan Angin Duniawi (316) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/0qBNQEM6L4A\">https:\/\/youtu.be\/0qBNQEM6L4A<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :<br \/>\nSetiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Channel \u00a0Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; Delapan Angin Duniawi (316) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya percaya bahwa kita memiliki hakekat yang sama dengan Buddha. Jika anda tidak yakin akan hal ini, anda tak akan bisa melatih diri. Jadi, kita semua harus tahu bahwa hakekat kebuddhaan dimiliki semua orang. Oleh karena itu, hati kita harus senantiasa memiliki kelapangan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1380,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; Delapan Angin Duniawi (316) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya percaya bahwa kita memiliki hakekat yang sama dengan Buddha. Jika anda tidak yakin akan hal ini, anda tak akan bisa melatih diri. Jadi, kita semua harus tahu bahwa hakekat kebuddhaan dimiliki semua orang. Oleh karena itu, hati kita harus senantiasa memiliki kelapangan.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1525","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1525"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1525\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}