{"id":1477,"date":"2016-07-02T03:07:58","date_gmt":"2016-07-02T03:07:58","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1477"},"modified":"2016-07-02T03:07:58","modified_gmt":"2016-07-02T03:07:58","slug":"sanubari-teduh-enam-kekuatan-batin-bagian-2-291","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-enam-kekuatan-batin-bagian-2-291\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2 ) (291)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh - Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2 )  (291)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/57vGy7t2Qfw?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3>Sanubari Teduh \u2013 Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2\/2 ) (291)<\/h3>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Saudara se-Dharma sekalian kita sudah membahas enam kekuatan batin. Batin merujuk pada batin yang terkonsentrasi, sedangkan kekuatan merujuk pada kebijaksanaan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebijaksanaan. Kita semua sudah memilikinya, hanya saja belum membangkitkannya. Tujuan belajar agama Buddha adalah membangkitkan hakikat kebijaksanaan. Kita sering mendengar orang berkata, \u201dOrang itu sangat pandai, sangat bijaksana\u201c Sesungguhnya\u00a0 pandai belum tentu bijaksana. Kita juga sering mendengarkan orang membicarakan. Orang yang terlalu pandai sehingga membuat kesalahan. Kepandaian tidaklah sempurna. Yang terbaik adalah kebijaksanaan. Kita harus berlatih untuk memilah segala sesuatu di dunia ini. Kita juga harus memahami dengan sempurna bahwa segala sesuatu dan semua makhluk adalah setara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Kebijaksanaan ( zhi hui )\u00a0 adalah mampu membedakan yang benar dan salah serta memahami kesetaraan semua makhluk. Dapat membedakan benar salah adalah \u201czhi\u201d. Dalam hubungan antar sesama, jika kita mampu memandang setara semua makhluk, maka tidak akan ada perbedaan status sosial. Inilah salah satu tujuan Buddha meninggalkan keduniawian. \u00a0Dengan hakikat kebijaksanaan dan kebuddhaan, kita dapat berpandangan terbuka. Segala noda batin dapat dilenyapkan sehingga cahaya kebijaksanaan kita terpancar. Dengan demikian batin kita akan mampu menembus kebenaran segala sesuatu. Jadi dalam mendengarkan Dharma, pikiran harus terfokus. Kita harus memusatkan semangat. Setelah mendengarkan pembabaran Dharma, kita harus sungguh-sungguhn merenungkannya. Setelah merenungkannya, kita harus tekun berlatih dengan kebijaksanaan. Inilah mendengar, merenung dan mempraktikkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Kita harus memusatkan pikiran untuk mendengar Dharma. Setelah mendengar kita harus merenungkannya. Setelah merenungkannya, kita harus sungguh-sungguh mempraktikkannya. Inilah kekuatan batin yang sesungguhnya. Ajaran yang Buddha babarkan\u00a0 adalah prediksi masa lalu untuk masa kini. Kini kita telah melihat dan menembus semuanya berkat kemajuan teknologi. Jika ajaran Buddha ini kita terapkan dalam keseharian seiring penggunaan teknologi masa kini, maka enam kekuatan batin akan terwujud. Semoga enam kekuatan batin dimasa kini ini lebih kuat daripada yang digambarkan dalam Sutra. Jadi harap semua selalu bersungguh hati dan tekun melatih diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh \u2013 Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2\/2 ) (291) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/57vGy7t2Qfw\">https:\/\/youtu.be\/57vGy7t2Qfw<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh \u2013 Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2\/2 ) (291) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian kita sudah membahas enam kekuatan batin. Batin merujuk pada batin yang terkonsentrasi, sedangkan kekuatan merujuk pada kebijaksanaan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebijaksanaan. Kita semua sudah memilikinya, hanya saja belum membangkitkannya. Tujuan belajar agama Buddha adalah membangkitkan hakikat kebijaksanaan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1380,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1477","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh \u2013 Enam Kekuatan Batin ( Bagian 2\/2 ) (291) &nbsp; \u00a0Saudara se-Dharma sekalian kita sudah membahas enam kekuatan batin. Batin merujuk pada batin yang terkonsentrasi, sedangkan kekuatan merujuk pada kebijaksanaan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebijaksanaan. Kita semua sudah memilikinya, hanya saja belum membangkitkannya. Tujuan belajar agama Buddha adalah membangkitkan hakikat kebijaksanaan.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1477","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1477"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1477\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1477"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1477"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1477"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}