{"id":1348,"date":"2016-06-28T23:16:41","date_gmt":"2016-06-28T23:16:41","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1348"},"modified":"2016-06-28T23:16:41","modified_gmt":"2016-06-28T23:16:41","slug":"sanubari-teduh-sembilan-puluh-delapan-kecenderungan-bagian-2-263","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-sembilan-puluh-delapan-kecenderungan-bagian-2-263\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan &#8211; Bagian 2 (263)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh   Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan -  Bagian 2   (263)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/jfgse-msW8s?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan &#8211; Bagian 2\/2 (263)<\/h3>\n<p>Adakalanya membuka celah dan menciptakan karma buruk akibat delusi pandangan dan delusi \u00a0pikiran, serta sembilan puluh delapan kecenderungan dan seratus delapan noda batin yang membara siang dan malam.<\/p>\n<p>Mahkluk awam terdorong oleh pandangan\u00a0 menyimpang, ditambah ketamakan , kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan sehingga membangkitkan berbagai kegelapan dan noda batin serta menciptakan karma buruk\u00a0 yang membawa penderitaan tak terkira<\/p>\n<p><strong>Alam Nafsu Kebenaran tentang penderitaan<\/strong> (Mencakup sepuluh kecenderungan):<br \/>\nPandangan tentang diri, pandangan ekstream, kemelekatan pada pandangan pribadi, kemelekatan pada sila, pandangan sesat, kemelekatan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan<\/p>\n<p><strong>Alam Nafsu Kebenaran tentang sebab penderitaan<\/strong> (Mencakup tujuh kecenderungan):<br \/>\nKemelekatan pada pandangan pribadi, pandangan sesat, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan<\/p>\n<p><strong>Alam Nafsu Kebenaran tentang akhir penderitaan<\/strong> (Mencakup tujuh kecenderungan):<br \/>\nKemelekatan pada pandangan pribadi, pandangan sesat, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan<\/p>\n<p><strong>Alam Nafsu Kebenaran tentang jalan mengakhiri penderitaan<\/strong> (Mencakup delapan kecenderungan):<br \/>\nKemelekatan pada pandangan pribadi, kemelekatan pada sila , pandangan sesat, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan<\/p>\n<p>Jadi, sepuluh kecenderungan dalam empat kebenaran mulia,\u00a0 jika dijumlahkan berjumlah tiga puluh dua, berikutnya berkenaan dengan alam rupa dan alam tanpa rupa dalam empat kebenaran mulia kita harus membuang lagi faktor kebencian, jadi berkenaan dengan alam rupa dan tanpa rupa, masing-masing hanya tersisa dua puluh delapan faktor<\/p>\n<p><strong>Alam Rupa : <\/strong><br \/>\nKebenaran tentang penderitaan mencakup 9 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang sebab penderitaan mencakup 6 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang akhir penderitaan mencakup 6 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang jalan mengakhiri penderitaan mencakup 7 kecenderungan<br \/>\nSeluruhnya berjumlah 28 kecenderungan<\/p>\n<p><strong>Alam Tanpa Rupa : <\/strong><br \/>\nKebenaran tentang penderitaan mencakup 9 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang sebab penderitaan mencakup 6 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang akhir penderitaan mencakup 6 kecenderungan<br \/>\nKebenaran tentang jalan mengakhiri penderitaan mencakup 7 kecenderungan<br \/>\nSeluruhnya berjumlah 28 kecenderungan<\/p>\n<p>Jika dijumlahkan hasilnya adalah 56. Lima enam ditambah tiga puluh dua menjadi delapan puluh delapan, mengenai bilangan-bilangan ini kita memang tidak mengerti, ditambah lagi istilah istilah sungguh rumit dan membelenggu. Namun tidak apa-apa, ditengah belenggu juga ada Tathagata. Mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya sangat sederhana. Pengelompokan saja yang membuat rumit. Jika kita kembali pada kesederhanaan, kita akan dapat mempelajari kemurnian. Dengan batin yang murni, barulah kehidupan kita dapat menjadi sederhana. Dengan kehidupan yang sederhana barulah dapat mencapai kemurnian.<\/p>\n<p>Rendah hati, senantiasa damai dan bersuka cita, tidak terikat kondisi dan nafsu, mengambil dari diri sendiri untuk berdana dan menjaga sila dengan tulus, tidak meninggikan diri, penuh kesabaran, berani dan bersemangat, Sepenuh hati melatih perenungan dan meneladani kebijaksanaan para suci. (Carya-nidana)<\/p>\n<p>Jika sepuluh kecenderungan bisa dihilangkan dari batin kita,\u00a0 maka kita akan mencapai kualitas batin tanpa pamrih. Bagaimana kita mencapai kondisi batin tanpa pamrih tanpa ketamakan dan nafsu keinginan ? Tanpa ketamakan dan nafsu keinginan manusia tidak akan memiliki pamrih. Tanpa adanya pamrih dia tidak akan punya kebencian, Tanpa kebencian, tidak akan ada kebodohan. Tanpa kebodohan tidak akan ada kesombongan. Tanpa kesombongan batin akan sangat jernih. Adakah keraguan dalam batin yang jernih ? Jadi batin atau pikiran adalah kuncinya.<\/p>\n<p>Mempelajari ajaran Buddha berarti harus melatih cinta kasih, welas asih, suka cita dan keseimbangan batin. Jangan mengumbar nafsu keinginan dan bertindak sesuka hati. Hendaklah menjalankan sila dengan tulus. Jika berdana dengan kualitas batin seperti ini, pahala yang tercipta akan tak terhingga. Selain itu kita juga harus memiliki kerendahan hati, kesabaran, keberanian dan semangat<\/p>\n<p>Delapan puluh delapan kecenderungan ditambah dengan sepuluh kecenderungan diawal menjadi Sembilan puluh delapan kecenderungan jika ditambah lagi dengan sepuluh ikatan, semuanya berjumlah seratus delapan. Istilah-istilah ini begitu banyak, tetapi sesungguhnya semua berpulang pada pikiran yang halus. Harap semua selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari video Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan &#8211; Bagian 2\/2 (263) \u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/jfgse-msW8s\">https:\/\/youtu.be\/jfgse-msW8s<\/a><\/p>\n<p><strong>GATHA PELIMPAHAN JASA<\/strong><br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan &#8211; Bagian 2\/2 (263) Adakalanya membuka celah dan menciptakan karma buruk akibat delusi pandangan dan delusi \u00a0pikiran, serta sembilan puluh delapan kecenderungan dan seratus delapan noda batin yang membara siang dan malam. Mahkluk awam terdorong oleh pandangan\u00a0 menyimpang, ditambah ketamakan , kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan sehingga membangkitkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1348","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan &#8211; Bagian 2\/2 (263) Adakalanya membuka celah dan menciptakan karma buruk akibat delusi pandangan dan delusi \u00a0pikiran, serta sembilan puluh delapan kecenderungan dan seratus delapan noda batin yang membara siang dan malam. Mahkluk awam terdorong oleh pandangan\u00a0 menyimpang, ditambah ketamakan , kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan sehingga membangkitkan&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1348","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1348"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1348\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1348"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1348"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1348"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}