{"id":1326,"date":"2016-06-28T15:36:11","date_gmt":"2016-06-28T15:36:11","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1326"},"modified":"2016-06-28T15:36:11","modified_gmt":"2016-06-28T15:36:11","slug":"sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-11-255","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-11-255\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 11\/13 ( 255)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh   Enam Belas Pandangan  - Bagian 11 ( 255)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/db-SII5jXEE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><strong>Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 11\/13 ( 255)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Perasaan tidak lepas dari hubungan antar manusia. Jadi, ada orang yang merasa, &#8220;Saya sangat menderita&#8221;, \u201cMengapa yang menderita harus saya ?\u201d Saat orang lain menderita, kita sepertinya tak dapat merasakannya. Saat giliran kita yang menderita, kita merasakan penderitaan itu tidak tertahankan. Inilah yang disebut perasaan. Di dalam enam belas pandangan yang Buddha uraikan, yang ke 13 dan 14 adalah pandangan tentang penerima dan pandangan tentang yang membuat menerima ini berkaitan dengan perasaan.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><strong>Enam Belas Pandangan :<\/strong><br \/>\n1. Pandangan tentang aku<br \/>\n2. Pandangan tentang makhluk hidup<br \/>\n3. Pandangan tentang jiwa atau usia<br \/>\n4. Pandangan tentang yang bernyawa<br \/>\n5. Pandangan tentang yang dilahirkan<br \/>\n6. Pandangan tentang yang dikembangkan<br \/>\n7. Pandangan tentang ras manusia<br \/>\n8. Pandangan tentang manusia<br \/>\n9. Pandangan tentang pelaku<br \/>\n10. Pandangan tentang yang membuat melakukan<br \/>\n11. Pandangan tentang pemulai<br \/>\n12. Pandangan tentang yang membuat memulai<br \/>\n13. Pandangan tentang penerima<br \/>\n14. Pandangan tentang yang membuat menerima<br \/>\n15. Pandangan tentang yang tahu<br \/>\n16. Pandangan tentang yang melihat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kita tahu bahwa perasaan membawa derita. Penderitaan itu bukan hanya ada pada kehidupan ini saja. Jika kita berbuat jahat, kita akan semakin menderita pada kehidupan berikutnya. Kita sudah tahu akan hal ini, Tetapi banyak orang masih berpikir, \u201cSaya tidak melakukannya sendiri, melainkan meminta orang lain melakukannya\u201d. \u201cSaya sudah cukup menderita, kelak saya meminta orang lain melakukannya \u201cDia tidak tahu bahwa dengan meminta orang lain melakukannya, orang lain juga akan menderita.\u00a0 Sesungguhnya orang yang meminta orang lain melakukan ini berarti membuat orang lain menderita, maka penderitaannya sendiri akan semakin besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kontak antara enam indra dan objek dapat melahirkan perasaan. Saat merasakan penderitaan, jangan lah orang lain turut merasakannya. Inilah yang disebut empati. Setiap orang hendaknya mengembangkan cinta kasih dan welas asih seperti ini, mengingatkan diri sendiri dengan pandangan hukum sebab akibat. Jika saat merasa menderita, kita membuat orang merasakan hal yang sama, maka karma buruk yang akan tercipta sangatlah berat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tubuh ini tidak bertahan lama, akan kembali ke tanah. Saat wujud rusak dan kesadaran pergi. Ketamakan apa yang patut dipertahankan ? Pikiran terbentuk didalam batin, terombang ambing tanpa arah. Pemikiran yang sesat\u00a0 mengundang derita bagi diri sendiri. (Dharmapada)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Arti dari kalimat ini adalah meski manusia memiliki tubuh tetapi berapa lama tubuh ini dapat bertahan ? Kehidupan tidaklah kekal. Berapa lama waktu yang kita miliki ? Setiap orang pasti akan menghadapi kematian. Jika tubuh atau wujud \u00a0kita ini rusak, batin kita akan terpisah dari tubuh. Tubuh ini hanyalah tempat bernaung bagi batin dan kesadaran kita. Bagaikan sebuah rumah jika rumah rusak manusia harus pergi dari sana. Jadi ketamakan apa yang patut dipertahankan ? \u201c Pikiran terbentuk didalam batin, terombang ambing tanpa arah. Pikiran kita sering dipenuhi keraguan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pikiran diciptakan oleh diri sendiri, bukan diberikan oleh orang tua; berusaha melakukan apa yang benar, menciptakan berkah tanpa menyesal. Bagai kura-kura yang menyembunyikan enam anggota tubuh. Jagalah pikiran bagaikan benteng. Saat kebijaksanaan dan Mara berperang, yang menang akan bebas dari derita. ( Dharmapada )<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saat pikiran bersentuhan dengan kondisi luar, pikiran pengganggu dan pikiran ilusif akan turut timbul mengikuti perasaan. Ini akan memupuk berbagai tabiat buruk yang akan mengundang bencana dan derita. Dalam melatih diri, hendaklah meningkatkan kewaspadaan, menjaga enam indra dan menjaga pikiran. Jika batin jernih dan kebijaksanaan cemerlang, kebenaran pun akan terlihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saat enam indra bertemu dengan enam objek luar, kita harus bisa memilah. Kita harus menciptakan berkah, jangan sampai kita kembali menyesal. Jadi, dikatakan \u201cMenciptakan berkah tanpa menyesal \u201cJangan berpikir untuk mundur, saat sudah bertekad, kita harus melangkah maju dengan berani. Saudara sekalian, senantiasalah bersungguh hati. Dengan bersungguh hati, segala kesulitan akan dapat diatasi. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p>Demikianlah diintisarikan dari\u00a0<strong>Sanubari Teduh \u2013 Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 11\/13 (255) \u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/db-SII5jXEE\">https:\/\/youtu.be\/db-SII5jXEE<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>GATHA PELIMPAHAN JASA<\/strong><br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 11\/13 ( 255) Perasaan tidak lepas dari hubungan antar manusia. Jadi, ada orang yang merasa, &#8220;Saya sangat menderita&#8221;, \u201cMengapa yang menderita harus saya ?\u201d Saat orang lain menderita, kita sepertinya tak dapat merasakannya. Saat giliran kita yang menderita, kita merasakan penderitaan itu tidak tertahankan. Inilah yang disebut perasaan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1326","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 11\/13 ( 255) Perasaan tidak lepas dari hubungan antar manusia. Jadi, ada orang yang merasa, &#8220;Saya sangat menderita&#8221;, \u201cMengapa yang menderita harus saya ?\u201d Saat orang lain menderita, kita sepertinya tak dapat merasakannya. Saat giliran kita yang menderita, kita merasakan penderitaan itu tidak tertahankan. Inilah yang disebut perasaan.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1326"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1326\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}