{"id":1306,"date":"2016-06-23T14:56:07","date_gmt":"2016-06-23T14:56:07","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1306"},"modified":"2016-06-23T14:56:07","modified_gmt":"2016-06-23T14:56:07","slug":"sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-05-249","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-enam-belas-pandangan-bagian-05-249\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan &#8211; Bagian 05\/13 (249)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh   Enam Belas Pandangan -  Bagian 05\/13  (249)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/-_eY855Q3YI?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 05\/13 (249)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0Video Youtube : \u00a0 \u00a0<strong>\u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI\">https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Saudara se-Dharma sekalian, sebenarnya berapa panjang kehidupan manusia ? Sesungguhnya, kehidupan tidaklah kekal. Selain itu, prosese metabolisme terus berlangsung. Hari kemarin telah berlalu, hari ini kita bagaikan dilahirkan kembali. Di dalam tubuh kita selalu terjadi proses kematian dan kelahiran sel. Kapan kita memiliki kehidupan yang kekal ? Jadi, kita harus menggengam waktu yang ada. Kita harus mengamati pikiran kita. Kehidupan tidaklah lama. Satu-satunya yang harus kita capai adalah moralitas. Kita berlatih dengan harapan lewat semangat kita, kita dapat memupuk kualitas bajik. Kualitas ini dipupuk dalam keseharian. Bukankah kita sering membahas tentang \u201cgong de\u201d (pahala)? Tanpa \u201cgong\u201d kita tak akan mencapai \u201cde\u201d. Jadi, kita harus senantiasa lebih tekun. \u201cGong\u201d adalah sikap rendah hati di dalam diri. \u201cDe\u201d adalah tata krama yang terwujud keluar. Melatih diri berarti melatih ke dalam diri. Jika batin tidak bergejolak, tidak membangkitkan niat buruk, tidak ditutupi oleh kegelapan batin, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan Nirvana. Nirvana adalah kondisi hening dan jernih. Jadi, jika demikian, maka inilah yang disebut kehidupan abadi atau disebut jiwa kebijakasanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti harus melatih ke dalam diri. Apakah pikiran kita bergejolak ? Apakah dalam pikiran kita selalu timbul kegelapan batin\u00a0 ? Jika ada, kita harus segera melatih ke dalam diri. Ini akan bermanfaat saat kita menghadapi orang dan masalah. Inilah \u201cde\u201d yang harus kita kembangkan.\u00a0 Kehidupan sungguh sangat singkat. Karena itu kita harus selalu menghargai setiap waktu saat kita masih hidup. Kita sering membahas kelahiran kembali.\u00a0 Kelahiran dan kematian terus berlangsung tanpa batas\u00a0 waktu. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa selama kita masih hidup, kita harus sungguh-sungguh memupuk kebajikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Yang kelima dari enam belas pandangan adalah pandangan tentang dilahirkan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Enam Belas Pandangan :<\/strong><br \/>\n1. Pandangan tentang aku<br \/>\n2. Pandangan tentang makhluk hidup<br \/>\n3. Pandangan tentang jiwa atau usia<br \/>\n4. Pandangan tentang yang bernyawa<br \/>\n5. Pandangan tentang yang dilahirkan<br \/>\n6. Pandangan tentang yang dikembangkan<br \/>\n7. Pandangan tentang ras manusia<br \/>\n8. Pandangan tentang manusia<br \/>\n9. Pandangan tentang pelaku<br \/>\n10. Pandangan tentang yang membuat melakukan<br \/>\n11. Pandangan tentang pemulai<br \/>\n12. Pandangan tentang yang membuat memulai<br \/>\n13. Pandangan tentang penerima<br \/>\n14. Pandangan tentang yang membuat menerima<br \/>\n15. Pandangan tentang yang tahu<br \/>\n16. Pandangan tentang yang melihat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Artinya, setelah dilahirkan, kita selalu membahas kelahiran dan kematian. Sesungguhnya diantara lahir dan mati ada kehidupan. Inilah yang harus benar-benar diperhatikan. Saat lahir kita tidak tahu masa depan kita. Kita juga tidak tahu dari mana kita lahir. Semua ini berada diluar kendali kita. Dengan orang tua mana kita berjodoh, maka kita akan lahir di keluarga mereka. Kelahiran terjadi dalam sekejap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Fase berikutnya adalah kehidupan. Setelah lahir maka kita harus hidup. Jadi, waktu dalam hidup inilah yang penting. Kehidupan tidak lepas dari lima agregat. Dalam keseharian indra selalu bersentuhan dengan objek. Karena itu kita mulai perhitungan saat menghadapi masalah hari ini, kita memikirkan hari esok dan banyak hal di masa depan yang belum pasti. Pikiran keliru terus timbul. Selain itu, kita juga perhitungan dengan masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Antar sesama manusia hendaknya saling bersyukur dan membalas budi. Inilah yang sering disebut menjalin jodoh baik. Jika jalinan jodoh baik terpupuk, kehidupan kita akan berkualitas.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Namun sayangnya, manusia memiliki pemikiran menyimpang. Dengan pemikiran ini, budi bisa berubah menjadi dendam. Seseorang mungkin sebelumnya baik terhadap kita, \u00a0tetapi adakalanya saat terjadi gesekan dalam hidup, kita mudah melekat pada keakuan. Tak peduli bagaimana sikapmu terhadap saya dahulu. yang pasti kamu tidak baik terhadap saya. Dengan begitu timbullah pertikaian. Inilah pandangan tentang dilahirkan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Jika setelah mendengar ajaran Buddha tidak membangkitkan tekad untuk bersemangat memupuk kualitas luhur ditengah masyarakat dan malah hanya berlatih demi diri sendiri, maka hanya akan menjadi praktisi yang mencari pencapaian pribadi.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Kita harus memupuk kebijaksanaan, kita harus berani terjun ke dalam masyarakat \u00a0untuk menjalin jodoh baik dengan semua makhluk. Untuk menjalin jodoh baik dengan semua makhluk, kita harus memiliki rasa syukur. Rasa syukur ini sangat penting. Sulit terlahir sebagai manusia. Setelah terlahir sebagai manusia, dalam kehidupan ini, sesungguhnya berapa panjang usia kita ? Kita tidak tahu. Jadi kita harus mengenggam kehidupan ini dengan baik. Kita harus selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Demikianlah diintisarikan dari\u00a0<strong>Sanubari Teduh \u2013 Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 05\/13 (249) \u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI\">https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 05\/13 (249) \u00a0Video Youtube : \u00a0 \u00a0\u00a0https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI Saudara se-Dharma sekalian, sebenarnya berapa panjang kehidupan manusia ? Sesungguhnya, kehidupan tidaklah kekal. Selain itu, prosese metabolisme terus berlangsung. Hari kemarin telah berlalu, hari ini kita bagaikan dilahirkan kembali. Di dalam tubuh kita selalu terjadi proses kematian dan kelahiran sel. Kapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh Enam Belas Pandangan \u2013 Bagian 05\/13 (249) \u00a0Video Youtube : \u00a0 \u00a0\u00a0https:\/\/youtu.be\/-_eY855Q3YI Saudara se-Dharma sekalian, sebenarnya berapa panjang kehidupan manusia ? Sesungguhnya, kehidupan tidaklah kekal. Selain itu, prosese metabolisme terus berlangsung. Hari kemarin telah berlalu, hari ini kita bagaikan dilahirkan kembali. Di dalam tubuh kita selalu terjadi proses kematian dan kelahiran sel. Kapan&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1306"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1306\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}