{"id":1162,"date":"2016-04-30T11:05:11","date_gmt":"2016-04-30T04:05:11","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1162"},"modified":"2016-04-30T11:05:11","modified_gmt":"2016-04-30T04:05:11","slug":"sanubari-teduh-sembilan-gangguan-bagian-5-212","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-sembilan-gangguan-bagian-5-212\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 5 (212)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh -  Sembilan Gangguan   Bagian 5 (212)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/FvXEbUmYE9w?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h1>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 5 (212)<\/h1>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Video Youtube : <a href=\"https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w\">https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara se-Dharma sekalian, \u00a0\u00a0waktu terus berlalu tanpa henti kita harus menggunakan hati seorang praktisi, dan melewati kehidupan setiap hari dengan langka yang mantap. Saya sering berkata bahwa kita harus membina ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kesungguhan. Janganlah kita menipu orang sedikit pun. Janganlah membedakan status sosial. Semua makhluk pada dasarnya setara. Kewajiban semua makhluk adalah bersikap tulus antarsesama. Dengan begitu kehidupan akan tentram dan damai. Pandangan salahpun akan berkurang. Kita telah membahas bahwa noda batin berasal dari pikiran kita. Adakalanya kita menciptakan karma tanpa sadar. Benih karma tidak berlalu begitu saja. Ia mungkin akan mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan. Jadi akumulasi karma sungguh menakutkan. Karena itu, janganlah kita terus memupuk karma.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita tengah membahas Sembilan Gangguan. Ada sembilan Gangguan yang pernah dialami Buddha.\u00a0 Gangguan berarti kesulitan. Kitapun pasti pernah bertemu kesulitan. Adakalanya juga kita juga bertemu musibah yang tiba-tiba muncul. Semua ini adalah gangguan. Bukan hanya makhluk awam, Buddha juga mengalaminya. Dalam kehidupan-Nya, Buddha bertemu sembilan gangguan.<\/p>\n<p>Sembilan Gangguan:<\/p>\n<ol>\n<li>Menyiksa diri selama enam tahun<\/li>\n<li>Fitnaan Sundari<\/li>\n<li>Kaki tertusuk ranting<\/li>\n<li>Makan makanan kuda<\/li>\n<li>Pembantaian suku Sakya oleh raja Virudhaka<\/li>\n<li>Tidak dapat makanan saat pindapatha<\/li>\n<li>Fitnahan Cinca<\/li>\n<li>Terluka akibat batu besar yang di jatuhkan Devadatta<\/li>\n<li>Harus menahan hawa dingin dengan tiga helai jubah<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kini kita akan membahas yang kelima. Gangguan ini sangat besar, yakni Raja Virudhaka memusnakan suku Sakya. Meski sudah mencapai kebuddhaan, melihat suku-Nya berada diambang kehancuran, \u00a0bukankah juga merupakan gangguan bagi Buddha ? Sesungguhnya apa sebabnya. Di masa Buddha mencapai pencerahan. India terbagi menjadi banyak kerajaan. Jadi, banyak raja berkuasa di sana. Di sana terdengar bahwa pangeran Sakya yang bernama Siddharta mencapai kebuddhaan dan disebut sebgaia Yang Mahasadar. Orang India sangat menghormati tokokh agama, apalagi yang mendirikan aliran tersendiri. Setelah mencapai pencerahan. Buddha mulai menyebarkan ajaran-Nya. Setelah memberi ajaran pertama\u00a0 di Taman Rusa dan mendirikan Sangha. Buddha mlai menyebarkan ajaran. Banyak orang mulai mengakui kebenaran yang diajarkan Pangeran Siddhartha dan meyakini-Nya sebagai Yang Sadar. Raja dari setiap negri menaruh hormat kepada Yangg Sadar ini. Pada masa-masa ini, seorang raja baru naaik takhta. Raja ini bernama Prasenajit. Setelah naik takhta Raja Prasenajit memiliki banyak cita-cita. Selain memikirkan rakyat, dia memikirkan cara memperkuat kekuasaan agar rakyatnya hidup semakin makmur. Dia berpikir, jika raja yang memimpin kelak adalah raja yang murah hati, penuh cinta kasih, dan bijaksana dalam memimpin. Maka negri itu akan penuh berkah. Raja Prasenajit sangat mengangumi Kerajaan Kaplivastu yang memiliki orang Yang Sadar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jadi, kekuatan batin juga tidak membantu. Ini yang dikisahkan dalam Sutra, Intinya, Buddha sudah tahu bahwa kekuatan karma tidak dapat dihindari, sesungguhnya kaarma apa yang menyebabkan yang membuat suku Sakya harus musnah di tangan Raja Virudhaka ? Buddha mulai membabarkan sebabnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam kehidupan lampau ada seorang anak yang setelah menangkap ikan dan meletakkannya di tepi air, lalu memukuli kepalanya dengan tongkat, inilah sebabnya (Sutra tentang Sebab dan kondisi)<\/p>\n<p>Pada masa lampau, di Rajagrha terdapat sebuah desa. Warganya sering menangkap ikan. Pada masa itu kelaparan tengah melanda. Hasil panen sangat sedikit. Maka warga hanya bisa nenangkap ikan. Mereka hidup dari hasil tangkapan. Ikan di kolam mereka sangat banyak. Warga mengambil ikan dari sana. Diantaranya ada dua jenis ikan, yang satu bernama ikan dedak, yang lainnya bernama ikan banyak lidah. Ikan-ikan ini ditangkap dan dibunuh setiap hari.\u00a0 Suatu hari ada anak di tepi kolam ynag melihat orang menangkap ikan. Ada ikan yang masih hidup saat di tangkap dan terus meronta-ronta. Anak itu lalu mengambil sebatang tongkat, melihat ikan meronta dia sangat senang.\u00a0 Dia lalu memukul kepala dua ekor ikan ini. Jika ikan ini meronta dia akan memukulnya. Akhirnya kedua ikan itupun mati. Akan teapi, kelahiran kembali terus berlanjut. Karena itu dendam itu pun terus terbawa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Budha lalu berkata, \u201cTahukah kalian ?\u201d \u00a0warga Rajagrha saat itu adalah Suku Sakya.\u201d Mereka membunuh ikan setiap hari.\u201d Raja Virudhaka saat ini\u00a0 adalah seekor dedak pada masa itu.\u00a0 Tentang dendamnya \u00a0tiga kali sehari. Itu karena kehidupan yang lampau\u00a0 ada anak kecil yang merasa senang saat melihat orang membunuh ikan. Meski anak ini tidak mengerti, tetapi ikan yang dipukuli tetap menaruh dendam. Benih kebencian dan dendam ini terus mengikuti dari kehidupan ke kehidupan. Menanti saatnya untuk berbuah. Jadi Hukum karma sangat menakutkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena karma itulah suku Sakya binasa disana. Buddha Sakyamuni pun tak bisa menolong. Ini dikarenakan kehidupan lampau mereka memukuli ikan, kebencian ikan-ikan itu tak bisa dipadamkan dengan pembabaran Dharma.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menanam benih kebajikan akan memperoleh buah kebahagiaan; memupuk benih kejahatan akan memperoleh buah penderitaan. Buah Karma dari kehidupan lampau tidak dapat dihindari. Saat ia muncul, kita tak dapat mengendalikannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jadi kita harus memahami bahwa dalam kehidupan ini, kita harus menjaga pikiran saat menghadapi orang dan masalah. Bukan hanya berhati-hati saat menghadapi orang, saat menghadapi sesuatupun\u00a0 demikian. Bangkitkanlah rasa hormat janganlah mendeskriminasikan atau meremehkan. Janganlah ada niat untuk menipu. Ini Tidak benar. Hal-hal yang terlihat kecil dapak membawa dampak yang besar. Suku Sakya pun binasa akibat hal sepele. Lihatlah hukum karma sangat menakutkan. Karena itu dalam melatih diri, kita harus selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1>Demikianlah diintisarikan dari Video Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 5 (212) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w\"><strong>https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w<\/strong><\/a><\/h1>\n<h1><\/h1>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/h1>\n<h1>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/h1>\n<h1><\/h1>\n<h1><\/h1>\n<h1>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/h1>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 5 (212) &nbsp; Video Youtube : https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian, \u00a0\u00a0waktu terus berlalu tanpa henti kita harus menggunakan hati seorang praktisi, dan melewati kehidupan setiap hari dengan langka yang mantap. Saya sering berkata bahwa kita harus membina ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kesungguhan. Janganlah kita menipu orang sedikit pun. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":618,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1162","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 5 (212) &nbsp; Video Youtube : https:\/\/youtu.be\/FvXEbUmYE9w &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian, \u00a0\u00a0waktu terus berlalu tanpa henti kita harus menggunakan hati seorang praktisi, dan melewati kehidupan setiap hari dengan langka yang mantap. Saya sering berkata bahwa kita harus membina ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kesungguhan. Janganlah kita menipu orang sedikit pun.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1162","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1162"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1162\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1162"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1162"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1162"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}