{"id":1155,"date":"2016-04-30T10:58:51","date_gmt":"2016-04-30T03:58:51","guid":{"rendered":"http:\/\/sanubariteduh.com\/?p=1155"},"modified":"2016-04-30T10:58:51","modified_gmt":"2016-04-30T03:58:51","slug":"sanubari-teduh-sembilan-gangguan-bagian-2-209","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/sanubari-teduh-sembilan-gangguan-bagian-2-209\/","title":{"rendered":"Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 2 (209)"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Sanubari Teduh -  Sembilan Gangguan   Bagian 2 (209)\" width=\"1080\" height=\"810\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/xbprzaVjLyk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h1>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 2\/10 (209)<\/h1>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Video Youtube : <a href=\"https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk\">https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saudara se-Dharma sekalian, iklim terus berganti, waktu terus berlalu. Saat satu hari berlalu, berarti usia kita juga berkurang sehari, hanya karma yang terus mengikuti. Baik karma baik maupun karma buruk setiap hari kita melakukannya hingga terus terakumulasi. Meski waktu terus berlalu dan usia terus berkurang hari demi hari, tetapi karma terus tercipta lewat pikiran dan perbuatan kita. Segala yanag kita pikirkan, segala yang kita katakan dan segala yang kita lakukan, semuanya terus mengakumulasi karma. Jadi makhluk makhluk awam memiliki banyak noda batin. Bukan hanya makhluk awam yang memiliki noda batin sebagai gangguan. Sesungguhnya, Buddha juga mngalami sembilan gangguan. Meski Buddha telah mencapai kebuddhaan, tetapi karena buah karma belum habis diterima, beliau tetap harus menerimanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sembilan Gangguan:<\/p>\n<ol>\n<li>Menyiksa diri selama enam tahun<\/li>\n<li>Fitnaan Sundari<\/li>\n<li>Kaki tertusuk ranting<\/li>\n<li>Makan makanan kuda<\/li>\n<li>Pembantaian suku Sakya oleh raja Virudhaka<\/li>\n<li>Tidak dapat makanan saat pindapatha<\/li>\n<li>Fitnahan Cinca<\/li>\n<li>Terluka akibat batu besar yang di jatuhkan Devadatta<\/li>\n<li>Harus menahan hawa dingin dengan tiga helai jubah<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebelum mencapai kebuddhaan, Buddha menjalani enam tahun praktik menyiksa diri dan menghadapi banyak kesulitan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang kedua dari sembilan\u00a0 Gangguan: Fitnahan Sundari<\/p>\n<p>Sundari menyebar fitnah atas Buddha, karena merasa dihormati oleh Buddha, Sundari mulai menyebar fitnah tanpa sebab. Apakah sebabnya kejadian ini bisa terjadi ? ( Sutra tenetang Sebab dan Kondisi )<\/p>\n<p>Yang kedua adalah gangguan dari seorang pertapa wanita yang bernama Sundari. Dia menfitnah Buddha dan anggota Sangha. Fitnahannini adalah gangguan bagi Buddha . Pada sat Buddha berada di vihara Jetavana. Beliau mengumpulkan sekelompok anggota Sangha untuk melatih diri. Ini terjadhi tidak lama setelah Buddha mencapai pencerahan. Banyak orang mulai menerima ajaran Buddha. Baik raja, mentri para pria maupun perempuan di masyarakat, semuanya sangat mengagumi Buddha. Karena itu, orang yang menyatakan berlindung pada Buddha dan bersedia menerima ajaran Buddha sangat banyak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Namun pada saat itu ada banyak sekte agama lain. Pada masa Buddha hidup di India terdapat banyak aliran agama. Karena itu, pertapa aliran lain merasa iri. Pertapa wanita ini adalah salah satu bagian dari aliran lain.\u00a0 Pertapa wanita ini mengaku dirinya mengandung. Dia mengikat buah kundur di perutnya, lalu pergi ke kota untuk memberitahu semua orang, \u201c Murid dari Buddha Sakyamuni tidak suci.\u201d \u201cBuddha Sakyamuni terus membabarkan Dharma-Nya dan terus mengatakan bahwa ajara-Nya bisa melampaui keduniawian, bisa melenyapkan noda batin, bisa mengikis nafsu dan kemelekatan\u201d Sundari berkata \u201c Itu semua palsu \u201c \u201c Saya adalah bukti yang terbaik\u201d \u201c Lihatlah saya akan segera melahirkan \u201c \u201c Ini karena salah seorang pria dari kelompok Sangha menaruh rasa cinta kepada saya\u201d \u201c Namun kini, dia sudah tidak menghiraukan saya.\u201d \u201cSaya sudah ditinggalkan\u201d Dia terus memfitnah Buddha dn Sangha. Akibatnya orang-orang di kota mulai ragu pada Sangha dan mulai bergunjing.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saat mendengar berita ini, raja pun berkunjung ke tempat Buddha dan bertanya\u00a0\u00a0 \u201c Apakah benar anggota Sangha-Mu melakukan hal seperti itu?\u201d Buddha tidak menjawab. Raja melihat para anggota Sangha dan menungguh apakah ada yang menjawab. Melihat Buddha tidak menjawab, anggota Sangha juga tidak memberi jawaban. Tiba-tiba terdengar suara Sundari yang berteriak dengan keras sambil berjalan masuk. Dia terus berteriak dan berkata bahwa di dalam Sangha ada orang seperti itu. Dia datang untuk menuntut keadilan. Dia terus berteriak seperti orang gila. Karena sikapnya yang histeris, tali ikatannya menjadi longgar dan buah kundur yang terikat di perutnya jatuh. Karena itulah akal bulusnya ketahuan. Raja menoleh melihat Buddha, tetapi Buddha tetap bergeming. Saat buah itu jatuh, wanita itu tiba-tiba terdiam. Semua orang yang ada disana tetap hening. Sundari pun membuka mulut untuk mengakui kesalahannya. Dia berkata, \u201cSaya merasa ajaran Buddha sangat universal\u201d \u201c Karena timbul rasa iri dalam hati, saya memfitnah Buddha dan Sangha. \u201c.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Setelah melihatnya, raja bertanya kepada Buddha. \u201c Yang Dijunjung, apakah sejak awal Engkau sudah tahu bahwa Sangha-Mu tidak bersalah sehingga Engkau tidak bergeming ?\u201d \u00a0Sambil tersenyum Buddha mengelengkan kepala dan berkata, \u201cHukum sebab akibat sangat menakutkan \u201c \u201cSaat karma buruk berbuah itu hal yang paling mengkhawatirkan \u201c Raja kembali bertanya \u201cYangb Dijunjung, mengapa bisa terjadi hal seperti ini ? \u201c Mohon Buddha babarkan ajaran kepada kami\u201d Buddha pun mulai menceritakannya. \u201cBerkalpa-kalpa yang lalu, di kota Varanasi, ada seorang penjudi yang bernama Mata Murni\u201d \u201c Saat itu ada seorang wanita tunasusila yang bernama Rupa Rusa\u201d \u201cMata Murni dan Rupa Rusa\u00a0 mulai mengenal satu sama lain\u201d \u201c Karena timbul niat yang tidak baik, Mata Murni mengajak Rupa Rusa untuk pergi keluar kota dengan naik pedati \u201c \u201c Pedati itu membawa mereka ke tempat terpencil\u201d , di sebuah taman di dalam hutan mereka berdua bermesraan dan melakukan tindakan asusila atas dasar saling menyukai\u201d \u201c Ditaman itu, tinggal seorang pertapa\u00a0 yang sudah mencapai tingkat PratyekaBuddha\u201d Dalam proses pelatihannya pertapa itu keluar setiap hari untuk mengumpulkan makanan. Pada saat pertapa itu pergi ke kota untuk mengumpulkan makanan sepasang pria dan wanita itu telah bermesraan di dalam taman itu. Lalu apa yang terjadi berikutnya. ? Mata Murni membunuh Rupa Rusa. Apa yang dia lakukan setelah membunuh orang ? Mata murni sangat ketakutan, lalu dia membawa jenazah Rupa Rusa ke tempat Pratyekabuddha itu melatih diri. Dia mengali sebuah liang untuk mengubur Rupa Rusa disana. Setelah melakukan itu, Mata Murni merasa sangat tidak tenang, lalu meninggalkan tempat itu. Karena jenazah Rupa Rusa\u00a0 ditemukan di tempat Pratyekabuddha itu, orang-orang berasumsi dia adalah pelakunya. Karena itu raja menjatuhkan hukuman mati untuk Pratyekabuddha \u00a0itu. Setelah melakukan itu hati Mata Murni selalu merasa tidak tenang. Dia merasa sangat bersalah. Akhirnya dia keluar untuk mengaku salah demi kembali mendapat ketenagan. Demikianlah kebenaran terungkap.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Setelah menceritakan hal ini Buddha kembali berkata kepada\u00a0 sang raja \u201cBaginda, tahukah anda ? \u201cMata Murni pada saat itu sekarang adalah Aku, Buddha Sakyamuni.\u201d \u201cRupa Rusa sekarang adalah Sundari\u201d Inilah jalinan jodoh.\u201d Meski hal ini terjadi pada berkalpa-kalpa yang lampau, tetapi sejak saat itu selama jangka waktu yang sangat panjang, benih itu terus mengikuti-Ku\u201d \u201cKini setelah berkalpa-kalpa kemudian meski Aku sudah mencapai kebuddhaan, benih karma iu tetap terus mengikuti-Ku\u201d Ia terus mengikutiku dari kehidupan ke kehidupan dan membuat-ku sangat terganggu hingga saat ini \u201cKini semuanya sudah berakhir\u201d\u00a0\u00a0\u00a0 tetapi Aku tetap harus menerima buah Karma-Ku \u201c<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita semuanya adalah benih. Sebagaimana benih yang ditanam, demikianlah buah yang akan kita tuai.<\/p>\n<p>Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, jika kita selalu dapat membangkitkan niat baik, bertutur kata baik, maka kehidupan kita akan lebih terjamin. Kita tak terus terjerat oleh karma buruk, kita bukan hanya tidak akan terjerat karma buruk dan gangguan, sebaliknya akan bertemu pendukung apapun yang akan kita lakukan selalu ada jalinan jodoh baik yang membantu mewujudkan tekad pelatihan diri kita. Jadi pelatihan diri dijalankan dalam kesharian. Ajaran Buddha harus dipraktekkan\u00a0 dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga harus bersumbangsih sebagai Bodhisattva dunia. Inilah yang sering saya katakan kepada kalian. Jadi kita harus selalu bersungguh hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1>Demikianlah diintisarikan dari Video Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 2 (209) <a href=\"https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk\"><strong>https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk<\/strong><\/a><\/h1>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1>Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB<\/h1>\n<h1>Channel\u00a0 Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF<br \/>\nTV Online : <a href=\"https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv\">https:\/\/www.mivo.com\/#\/live\/daaitv<\/a><\/h1>\n<h1><\/h1>\n<h1><\/h1>\n<h1>GATHA PELIMPAHAN JASA<br \/>\nSemoga mengikis habis Tiga Rintangan<br \/>\nSemoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran<br \/>\nSemoga seluruh rintangan lenyap adanya<br \/>\nDari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva<\/h1>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 2\/10 (209) &nbsp; Video Youtube : https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian, iklim terus berganti, waktu terus berlalu. Saat satu hari berlalu, berarti usia kita juga berkurang sehari, hanya karma yang terus mengikuti. Baik karma baik maupun karma buruk setiap hari kita melakukannya hingga terus terakumulasi. Meski waktu terus berlalu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":618,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanubariteduh"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"sanubariteduh.com","author_link":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/author\/sanubariteduh-com\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/category\/sanubariteduh\/\" rel=\"category tag\">Sanubari Teduh<\/a>","rttpg_excerpt":"Sanubari Teduh &#8211; Sembilan Gangguan Bagian 2\/10 (209) &nbsp; Video Youtube : https:\/\/youtu.be\/xbprzaVjLyk &nbsp; Saudara se-Dharma sekalian, iklim terus berganti, waktu terus berlalu. Saat satu hari berlalu, berarti usia kita juga berkurang sehari, hanya karma yang terus mengikuti. Baik karma baik maupun karma buruk setiap hari kita melakukannya hingga terus terakumulasi. Meski waktu terus berlalu&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1155"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1155\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jingsi.id\/sanubariteduh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}